Kamis, 26 April 2012

Review SCSL


Mohammad Ridwan Riyadi
11/317925/SP/24808
Special Court for Sierra Leone (SCSL)
            Special Court for Sierra Leone adalah pengadilan internasional yang didirikan oleh Pemerintah Sierra Leone bersama dengan PBB khusus untuk mengadili mereka yang bertanggung jawab atas pelanggaran terhadap kemanusiaan menurut Hukum Humaniter Internasional dan Hukum Sierra Leone yang dilakukan di wilayah Sierra Leone, berlaku sejak 30 November 1996.[1] Pengadilan ini digelar di Ibu Kota Sierra Leone, Freetown, dengan melibatkan hakim dan jaksa internasional untuk menjamin pengadilan tersebut memenuhi standar internasional. Sierra Leone merupakan negara bekas jajahan Perancis yang memperoleh kemerdekaan pada tanggal 27 April 1961.
Sejak tahun 1991, Sierra Leone mempunyai kebiasan buruk, yaitu pihak oposisi secara menerus melakukan kudeta terhadap pemerintah yang bekuasa, sampai akhirnya kudeta yang terjadi pada tahun 1997 dibawah pimpinan LetKol Johnny Paul Koroma (JPK) terhadap Presiden Ahmad Tejan Kabbah.[2] Kudeta yang terjadi selama lima tahun sampai 2005 ini memakan jumlah korban sipil tidak kurang dari 50.000 nyawa. Terjadi banyak pemberontakan di Sierra Leone pada saat itu, pemberontakan tersebut dipimpin oleh penjahat-penjahat perang seperti Alex Tamba Brima, Brima Kamara, dan Santigie Borbor Kanu yang merupakan anggota dari Armed Forces Revolutionary Council (AFRC) dibawah pimpinan JPK. Para pemberontak itu menyerang semua yang pro-pemerintahan, antara lain membunuh, melakukan kekerasan fisik seperti memutilasi, merekrut anak-anak untuk ikut melakukan pemberontakan, memperkosa wanita dan menjadikannya sebagai budak seks, serta menghancurkan fasilitas-fasilitas umum dengan membakarnya.[3]
            Hal-hal yang dilakukan oleh para pemberontak tersebut sangatlah melanggar hak asasi manusia yang telah tercantum pada konvensi-konvensi internasional. Seperti halnya adalah perekrutan anak-anak sebagai prajurit muda yang dilarang menurut Protokol Tambahan II tahun 1977 pada Konvensi Genewa.[4] Perekrutan anak dibawah usia 18 tahun kedalam pasukan bersenjata adalah dilarang dalam kondisi apapun.[5] Akibat dari kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan, Alex Tamba Brima, Brima Kamara, dan Santigie Borbor Kanu didakwa melakukan 14 kejahatan di Pengadilan Khusus Sierra Leone, namun tiga dakwaan tak terbukti. Sedangkan pemimpin AFRC sekaligus yang memimpin kudeta saat itu, Johnny Paul Koroma tidak pernah tertangkap sehingga diduga telah meninggal. Dan Mantan Presiden Liberia yang menjadi tersangka, Charles Taylor, karena diduga telah memasok senjata kepada para pemberontak Sierra Leone untuk ditukar dengan berlian, diadili di Den Hagg, Belanda, untuk menghindari kerusuhan oleh pendukungnya. Taylor yang telah bersaksi di pengadilan selama tujuh bulan mengaku tidak bersalah terhadap 11 dakwaan kejahatan perang dan kejahatan melawan kemanusiaan terkait perang sipil di Sierra Leone, dia juga membantah telah memberikan berlian kepada model internasional, Naomi Campbell, pada tahun 1997.[6]


[1] The Special Court for Sierra Leone, diakses dari <http://www.sc-sl.org/> pada tanggal 25 April 2012 pukul 20:17.
[2] Sebelumnya, pada tahun 1968, Presiden David Lansana digulingkan oleh Andrew Jumox-Smith; pada tahun 1991, Presiden Momoh dikudeta oleh Kapten Valentine Strasser; pada tahun 1996, Strasser dikudeta oleh Julius Maada Bio.
[3] Dakwaan Pengadilan Khusus Sierra Leone, Nomor 39 dan 40. Diakses dari <http://www.sc-sl.org/LinkClick.aspx?fileticket=Of5nG3SDgf0=&tabid=106> pada tanggal 25 April 2012 pukul 20:34.
[4] Pasal 4, paragraph 3c dapat dibaca: “ Anak yang belum mencapai umur 15 tahun tidak boleh direkrut sebagai pasukan bersenjatau ataupun berpartisipasi dalam tindak permusuhan”. Pendekatan yang sama diikuti pada tahun 1989 oleh para perancang Konvensi tentang Hak Anak  dalam pasal 38, paragraph 2. “ Negara yang merupakan bagian daripada konvensi ini harus mengambil segala tindakan apapun untuk menjamin bahawa orang yang belum mencapai usia lima belas tahun tidak berpartisipasi secara langsung dalam tindakan permusuhan”. Diakses dari <http://www.jsmp.minihub.org/Reports/jsmpreports/The%20Case%20of%20X/case_of_x_final_bi.pdf> pada tanggal 24 April 2012 pukul 22:27.
[5] Pasal 4 Protokol Opsional. Konvensi ILO nomor 128 juga melarang  perekrutan wajib atau paksa anak dibawah umur 18 tahun dalam konflik bersenjata. Ibid.
[6] Buletin Komisi Yudisial RI, Shvoong.com, 22 Oktober 2012. Diakses dari <http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/self-publishing/2065546-kejahatan-perang-di-afrika/> pada tanggal 25 April 2012 pukul 20:53.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar